Pada hari kedua ini terdapat 6 pertemuan, yang diselenggarakan sebagai rangkaian pertemuan AMM/PMC, yaitu:
- ASEAN-US Ministerial Meeting;
- ASEAN-Canada Ministerial Meeting;
- ASEAN-Australia Ministerial Meeting;
- ASEAN New Zealand Ministerial Meeting;
- ASEAN Foreign Ministers’ Meeting Interface with ASEAN Intergovernmental Commission on Human Right (AICHR) Representatives; and
- ASEAN Ministerial Dialogue on Strengthening Womens’s role for Sustainable Peace and Security.
Saya ingin mulai dengan pertemuan ASEAN-US Ministerial Meeting. Di dalam pertemuan tadi saya menyampaikan pernyataan nasional (pernyataan Indonesia) dan di awal saya menyampaikan penghargaan karena saya dan Secretary Pompeo memiliki komunikasi yang sangat baik. Kita memiliki pola komunikasi yang cukup rutin.
Dan yang lebih melegakan lagi Presiden kedua negara juga memiliki komunikasi yang sangat baik. Saya juga sampaikan bahwa selama beberapa dekade, Amerika Serikat telah menjadi salah satu mitra utama ASEAN.
Dan sudah menjadi komitmen Indonesia dan juga ASEAN untuk terus memperkokoh kemitraan yang baik dengan Amerika Serikat. Kemitraan yang baik ini adalah sebuah kemitraan yang setara, stabil dan membawa keuntungan bagi rakyat Amerika Serikat dan ASEAN.
Indonesia mengharapkan bahwa AS akan terus menjadi mitra pembangunan, mitra dalam memelihara perdamaian dan stabilitas dan mitra yang dapat terus menjaga norma, nilai dan prinsip-prinsip hukum internasional.
Lebih lanjut sampaikan bahwa pandemi ini merupakan bukti yang lain bahwa kita semua hidup dalam desa yang besar atau saya sebut global village, yang saling terkoneksi satu sama lain (interconnected) dan tanpa batasan atau borderless.
Oleh karena itu, saya mengajak agar respons kita terhadap pandemi ini juga harus satu dan saling terkoneksi.
Dalam kesempatan pernyataan nasional, saya menyampaikan apresiasi atas bantuan Amerika terhadap penyediaan ventilator bagi Indonesia.
Ke depan, saya menyampaikan bahwa ASEAN-Amerika Serikat harus dapat menjalin kerja sama jangka panjang untuk membangun ketahanan kesehatan kawasan, antara lain melalui jaringan yang lebih luas atau memperkuat jaringan (strengthening network) antara Centers for Disease Control and Prevention.
Saya juga menyampaikan mengenai vaksin. Saya sampaikan vaksin adalah game-changer dan vaksin adalah harapan masyarakat.
Oleh karena itu, ASEAN-Amerika Serikat juga diharapkan dapat bekerja sama dalam pengembangan, manufacturing dan produksi vaksin untuk memenuhi harapan masyarakat kita semua.
Di akhir dari pernyataan Indonesia, saya menyampaikan bahwa ASEAN didirikan untuk perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan.
Kita memiliki prinsip-prinsip yang ada di dalam ZOPFAN dan yang ada antara lain di dalam TAC (Treaty of Amity and Cooperation).
Dan prinsip-prinsip yang ada di berbagai Deklarasi atau piagam, termasuk yang saya sebutkan tadi ZOPFAN dan TAC telah membantu ASEAN untuk mengejar tujuan tersebut.
TAC tidak hanya terkait dengan ASEAN tetapi juga terkait antara ASEAN dengan Mitra Wicara ASEAN, termasuk Amerika Serikat
Indonesia juga mengharapkan agar kerja sama ASEAN dan Amerika Serikat terus dapat dilakukan dan menjadi true partner untuk perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Teman-teman,
Dalam pertemuan ASEAN-AS telah diadopsi 2 buah dokumen yaitu:
- Statement for the ASEAN Post Ministerial Conference with the United States
- Plan of Action to Implement the ASEAN-United States Strategic Partnership (2021-2025).
Masuk ke pertemuan berikutnya, ASEAN-Canada Ministerial Meeting.
Dua hal yang saya angkat dalam pertemuan ASEAN Canada Ministerial Meeting.
Pertama, ASEAN-Canada harus menjadi pemimpin dalam menjaga multilateralisme selama pandemi.
Sebagai catatan, saya bersama Menlu Kanada berada di dalam satu grup dari sejak awal pandemi, yaitu ministerial coordination group on COVID, dimana dari sejak awal kita terus mencoba menggunakan pendekatan multilateralisme di dalam merespon pandemi ini.
Multilateralisme merupakan platform yang penting untuk menjawab tantangan dunia, sekali lagi, termasuk pada saat kita menghadapi waktu yang sulit seperti pandemi ini. Dengan alasan inilah, Indonesia pada bulan April yang lalu telah menginisiasi sebuah resolusi SMU PBB yang mendukung peran sentral PBB dalam merespon COVID-19.
Dalam kaitan ini pula, prinsip akses setara terhadap vaksin yang aman dengan harga terjangkau menjadi salah satu bagian penting dari prinsip multilateralisme di masa pandemi.
Dan kita, Indonesia, mengajak Kanada untuk terus memberikan dukungan terhadap inisiatif seperti “Global Allocation Framework within the COVAX Facility”. Kita perlu terus mendukung multilateralisme termasuk di dalam upaya untuk memperoleh vaksin.
Kedua, ASEAN-Kanada harus terus memajukan pemberdayaan perempuan termasuk dalam konteks pemulihan ekonomi.
Tugas kita semua untuk terus membantu kaum perempuan untuk menyalurkan potensinya.
Dukungan terhadap UMKM, termasuk yang dimiliki dan dijalankan oleh kaum perempuan, akan menjadi bagian dari upaya pemulihan ekonomi.
Indonesia apresiasi dukungan Kanada bagi implementasi Canada-OECD Project on ASEAN SMEs (COPAS) 2016-2020 dengan nilai CAD 11 juta.
Indonesi juga mengajak Kanada untuk terus bermitra dalam isu pemajuan perempuan.
Kanada telah menyampaikan komitmen sebesar CAD 9.1 juta untuk implementasi Plan of Action ASEAN-Canada 2021-2025, yang antara lain akan difokuskan pada kerjasama demokrasi, menangkal cyber attacks, dan penanganan illegal migrants.
Plan of Action ini telah diadopsi dalam pertemuan.
On bilateral note, kita menyampaikan apresiasi terhadap dukungan Kanada terhadap Resolusi DK PBB no. 2538 yang diinisiasi oleh Indonesia mengenai perempuan dan misi perdamaian PBB.
Indonesia dan Kanada akan melanjutkan kerjasama dalam isu pemberdayaan perempuan dan saya kira sudah sejak cukup lama Indonesia dan Kanada terus melakukan atau meningkatkan kerja sama terkait dengan pemberdayaan perempuan.
Pertemuan yang ketiga adalah ASEAN-Australia Ministerial Meeting
Indonesia mengangkat dua isu:
Pertama, ajakan kepada Australia untuk bersama-sama menjauhkan kawasan kita dijadikan “a stage of geopolitical contest”.
Kedua, Indonesia menekankan kemitraan ASEANAustralia perlu ditujukan untuk menciptakan kawasan yang damai, stabil dan sejahtera.
Lebih lanjut, Indonesia sampaikan bahwa asia tenggara terus bekerja menciptakan perdamaian dan stabilitas berdasarkan prinsip ZOPFAN dan TAC. Ini sejalan dengan apa yang saya sampaikan pada pertemuan ASEAN-AS sebelumnya, sebelum pertemuan ASEAN- Australia.
Saya juga menyampaikan, Australia telah meng-aksesi TAC tahun 2005, dimana terdapat prinsip penolakan terhadap ancaman dan penggunaan kekerasan, komitmen untuk menyelesaikan masalah dengan cara damai, serta terus mengutamakan kerjasama.
Prinsip-prinsip tersebut diharapkan dapat terus diterapkan, di tengah tantangan geopolitik saat ini.
Di tengah-tengah pertemuan tadi, Menteri Luar Negeri Australia sangat mengapresiasi statement ASEAN yang dikeluarkan oleh para Menteri Luar Negeri ASEAN pada tanggal 8 Agustus mengenai pentingnya upaya untuk memelihara perdamaian di kawasan.
Untuk kawasan yang lebih luas, ASEAN terbuka untuk melakukan kerjasama untuk menciptakan perdamaian, stabilitas dan kesejahteraan di kawasan Indo-Pasifik melalui kerjasama.
Kita tadi juga sampaikan kembali penghargaan atas dukungan Australia dari sejak awal terhadap ASEAN Outlook on Indo-Pacific.
Australia meluncurkan paket inisiatif senilai AUD 23 juta untuk mendukung upaya ASEAN dalam menangani pandemi COVID-19, melalui 6 program kegiatan (penguatan sistem Kesehatan, keamanan Kawasan, pekerja migran dan kapasitas digital Kawasan). Dari dana tersebut sebesar AUD 1 juta digunakan untuk mendukung ASEAN Response Fund.
Jadi kalau kemarin pada saat kita bicara dengan APT (Asian Plus Three) masing-masing negara juga menyampaikan komitmennya untuk berkontribusi di dalam ASEAN Response Fund, masing-masing sebesar satu juta. Dan pada saat pertemuan dengan Australia, Australia juga menyampaikan dukungannya terhadap pembentukan ASEAN Response Fund dengan berkontribusi senilai AUD 1 juta.
Kemudian selanjutnya pertemuan ASEAN-New Zealand Ministerial Meeting.
Dalam pertemuan tersebut, Indonesia sampaikan 2 hal yaitu:
Pertama, pentingnya terus upayakan Peace, Stability and Prosperity di Indo-Pacific.
Sekali lagi, pesan ini dibawa terus oleh Indonesia dari sejak pertama pertemuan sampai saat ini. Dan ini merupakan pesan utama yang disampaikan di tengah situasi rivalitas yang saat ini terjadi di dunia dan termasuk di kawasan kita.
Rivalitas di kawasan berpotensi berdampak pada meningkatnya tensi dan distrust. Berkenaan dengan itu, Indonesia sampaikan pentingnya New Zealand memainkan peran penting dalam mendorong nilai kolaborasi, saling menghargai dan saling percaya di kawasan.
Terkait dengan tindak lanjut ASEAN Outlook on the IndoPacific tahun lalu, Indonesia juga meminta New Zealand untuk menjadi jembatan dalam menghubungkan ASEAN dengan negara-negara di Kawasan Pasifik.
Hal kedua, adalah mengharapkan bantuan New Zealand untuk membantu para pelajar ASEAN yang terdampak langsung Covid-19 di New Zealand.
Dalam pertemuan telah disahkan “The New PoA to Implement the ASEAN-New Zealand Strategic Partnership (2021-2025)” yang mencakup isu-isu penting yaitu trans national crimes, counter terrorism, digital economy, cyber security, renewable energy, communicable diseases dan lainnya.
Teman-teman,
Pertemuan kelima untuk hari ini adalah pertemuan ASEAN FMs Meeting Interface with ASEAN Intergovernmental Commission on Human Rights atau AICHR Representatives.
Statement Indonesia terfokus pada pentingnya AICHR memberikan perhatian terhadap perempuan termasuk para pekerja migran perempuan.
Dan saya sangat menghargai karena representative AICHR sebagian besar adalah perempuan, ini sebagai catatan.
Teman-teman,
Jumlah pekerja migran ASEAN, jumlahnya adalah sekitar 9.9 juta orang 48.7% diantaranya adalah perempuan.Dan dalam pernyataan nasionalnya, Indonesia mengatakan bahwa kita harus memastikan bahwa selama pandemi, perempuan memiliki kesetaraan hak dan akses termasuk di dalam pelayanan kesehatan.
Saya juga sampaikan agar AICHR memberikan perhatian terhadap irregular migrants Rohingya yang telah mempertaruhkan nyawa mereka dan menempuh cara yang sangat membahayakan untuk mencari hidup yang lebih baik, dan sebagian besar diantara mereka adalah perempuan dan anak.
Dalam pertemuan, saya juga menyambut baik diadopsinya AICHR Five Year Work Plan 2021-2025.
Teman-teman, pertemuan terakhir yang akan dilakukan pada hari ini adalah ASEAN Ministerial Dialogue on Strengthening Women’s role for Sustainable Peace and Security.
Jadi pertemuan ini akan dilakukan nanti malam, tetapi dapat Saya sampaikan dulu pada teman-teman apa yang akan saya sampaikan di dalam pertemuan nanti malam.
Jadi nanti malam Saya akan hadir sebagai salah satu pembicara utama di dalam pertemuan khusus; ini adalah pertemuan khusus Menlus ASEAN yang membahas peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan. “ASEAN Ministerial Dialogue on Strengthening Women’s role for Sustainable Peace and Security”.
Pertemuan ini secara khusus digelar sebagai tindaklanjut pembicaraan Saya dengan Menlu Viet Nam Desember tahun lalu sebelum Viet Nam memegang keketuaan ASEAN; di mana saya dan Menlu Viet Nam saat itu sepakat untuk mendorong agenda Perempuan dalam perdamaian dan keamanan pada masa keketuaan Viet Nam.
Selain saya, yang diminta untuk menjadi pembicara utama adalah Menlu Australia, Marise Payne dan Under Secretary General for Political and Peacebuilding Affairs, yaitu M Rosemary Di Carlo.
Dalam pertemuan nanti, saya sampaikan bahwa tahun 2020 merupakan momentum yang baik dalam mendorong peran perempaun dalam perdamaian dan keamanan karena tepat 20 tahun pengesahan Resolusi DK PBB 1325 mengenai Women, Peace and Security. Ini merupakan resolusi pertama yang secara khusus membahas peran perempuan dalam perdamaian.
20 tahun setelah resolusi ini, peran perempuan dalam perdamaian ternyata masih perlu ditingkatkan. Under represented. Hanya 13% sebagai negosiator, 3% sebagai mediator dan 4% sebagai penandatangan perdamaian antara tahun 1992-2018. Jumlah perempuan hanya 4,7% di unit militer dan 10,8% di unit kepolisian dalam misi perdamaian PBB.
Untuk itulah teman-teman, merupakan salah satu wujud konsistensi Indonesia untuk isu women, peace, and security.
Saat presidensi Indonesia di DK PBB bulan Agustus lalu, Alhamdulillah telah disahkan resolusi 2358 mengenai perempuan dalam misi perdamaian PBB yang telah disponsori oleh 97 negara, termasuk semua negara anggota DK PBB. Ini secara khusus akan meningkatkan peran perempuan dalam misi perdamaian PBB.
Saya juga akan sampaikan bahwa dalam 5 tahun terakhir, isu perempuan telah menjadi salah satu isu utama dalam politik luar negeri Indonesia. Diplomasi Indonesia aktif dalam memajukan isu perempuan baik di Afghanistan, Palestina, maupun di ASEAN.
Saya akan usulkan dalam pertemuan nanti adanya semacam Gerakan global/Global Movement untuk meningkatkan peran perempuan dalam perdamaian.
Untuk mencapai tujuan itu terdapat 3 hal yang akan saya garisbawahi yaitu:
Pertama, pentingnya mendobrak rintangan struktural maupun kultural terhadap peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan;
Kedua, memastikan adanya perangkat dan situasi yang mendukung bagi pemberdayaan perempuan dalam perdamaian dan keamanan termasuk melalui tindakan afirmasi, insentif, pengembangan kapasitas perempuan dan lainnya.
Ketiga, memperkuat jejaring global/global network untuk perempuan dalam perdamaian dan keamanan. Network ini sangat penting untuk meningkatkan kepedulian global dan memberikan kesempatan bagi peran perempuan dalam perdamaian dan keamanan.
Dalam kaitan inilah, Indonesia akan membentuk Southeast Asia Network of Women Peace Negotiators and Mediators, dan kita akan melakukannya tahun ini Insya Allah sehingga bisa menjadi bagian dari network global untuk meningkatkan partisipasi peran perempaun ASEAN dalam perdamaian dan keamanan.
Jadi itulah teman-teman yang dapat saya sampaikan pada press briefing hari ini. Besok tidak ada pertemuan, akan dilanjutkan pada hari Sabtu; dimana akan ada pertemuan ARF, ASEAN-EU dan ASEAN-India.
Demikian teman-teman.
Stay Healthy, Stay Strong and Stay United.