Liputan6.com, Jakarta - Sembari tetap menerapkan protokol kesehatan, sektor pariwisata tengah menyiapkan berbagai langkah strategis untuk kembali bergeliat pada masa pandemi. Salah satunya adalah bersinergi dengan berbagai pihak.
Prof. Dr. Walter Jamieson, selaku Academic Consultant Tammasat University, mengatakan, masa pandemi seperti sekarang ini adalah momen paling tepat untuk membuat berbagai inovasi.
"Jadi, jangan hanya new normal. tapi better normal," ucapnya dalam webinar bertajuk "The Impact of COVID-19 and the New Normal: the Southeast Asia Travel and Tourism Industry’s Perspective", Kamis, 18 Juni 2020.
Mengelaborasi poin itu, President of the Federation of ASEAN Travel Association (FATA), Datuk Tan Kok Liang, mengajukan narasi travel bubble negara ASEAN sebagai langkah awal mengembalikan pergerakan sektor pariwisata.
"Dengan begitu, butuh kolaborasi dalam banyak pihak. Pemerintah pun harus terus secara aktif membantu dalam promosi wisata," tuturnya. Wacara travel bubble ini kemudian disambung kembali oleh Eddy Krismeidi Soemawilaga selaku Deputy President ASEAN Tourism Association (ASEANTA).
Tak ditampik Eddy bahwa pariwisata domestik kemungkinan memang bakal kembali pulih, mengingat membuka perbatasan bukanlah perkara mudah di masa pandemi.
"Berkaca pada travel bubble yang sudah diberlakukan negara-negara United Nations, sistem travel bubble ini bakal diadopsi negara tetangga atau kelompok negara tertentu seperti ASEAN," ucapnya.
Apakah travel bubble itu? Mengutip weforum.org, travel bubble adalah konsep pariwisata yang memungkinkan dilakukan bila terjadi kesepakatan antar negara atau beberapa negara yang memiliki tingkat infeksi Covid-19 rendah dan terkendali sehingga warga negaranya bisa keluar masuk negara lain secara bebas.
Selengkapnya Detik.com