TEMPO.COJakarta -  Perdana Menteri Kamboja Hun Sen, yang juga Ketua ASEAN tahun ini, mempunyai cara pandang berbeda terhadap krisis Myanmar dibandingkan mayoritas anggota perhimpunan negara di Asia Tenggara itu.

Selain menjalin hubungan erat dengan Militer Myanmar yang melakukan kudeta pemerintahan demokratis, ia juga berniat mengundang pejabat Junta ke pertemuan ASEAN tahun ini di Kamboja. Sikap ini jelas bertentangan dengan keputusan ASEAN yang tahun lalu tidak mengundang Junta ke pertemuan ASEAN di Brunei.

Padahal sebelum berangkat ke Yangoon menemui pemimpin militer Myanmar, Hun Sen sudah ditelepon Presiden Joko Widodo yang mengingatkan bahwa  jika tidak ada kemajuan signifikan dalam rencana perdamaian, hanya perwakilan non-politik Myanmar yang boleh menghadiri pertemuan ASEAN.

Hal ini sejalan dengan kesepakatan ASEAN yang memberikan syarat konsensus 5 poin untuk penyelesaian damai krisis Myanmar.

Selengkapnya Tempo