Jakarta, CNN Indonesia -- Gelombang protes menolak kehadiran panglima junta militer, Min Aung Hlaing, dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN untuk membahas pergolakan di Myanmar pada Sabtu (24/4) mendatang membuat blok negara Asia Tenggara itu tergulung dilema.
Untuk menghentikan pertumpahan darah, ASEAN harus berbicara dengan junta militer. Namun, mengundang junta militer ke KTT itu juga berisiko mencoreng citra ASEAN karena seolah memberikan legitimasi ke rezim militer yang mengudeta pemerintahan sipil.
Sementara itu, pemerintahan sipil tandingan yang terbentuk setelah militer melakukan kudeta, (National Unity Government/NUG), juga meminta agar mereka diundang ke KTT itu.