Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Korea Selatan (Korsel) sedang mendorong kebijakan New Southern Policy Plus (NSP+) untuk lebih dekat dengan ASEAN, termasuk Indonesia. NSP+ memiliki tiga fokus: people (masyarakat), prosperity (kesejahteraan), dan peace (kedamaian).

Aspek people mengedepankan hubungan seperti peluang edukasi antara Korsel dan ASEAN, prosperity terkait kerja sama ekonomi, dan peace tentang posisi Korsel yang ingin semakin aktif dalam perdamaian internasional.

"Mayoritas implementasi program di bawah NSP berada di kerja sama pembangunan. Kita menekankan pembangunan ekonomi yang sama-sama menguntungkan," ujar Prof. Wongi Choe, Head of Center for ASEAN-India Studies, Korea National Diplomatic Academy (KNDA) dalam acara Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Selasa (15/6/2021).

Pendekatan ekonomi kepada ASEAN dianggap penting oleh Prof. Wongi Choe, sebab Korsel dianggap perlu diversifikasi dalam perdagangan setelah sebelumnya bergantung kepada ekonomi China.

Selama 20 tahun terakhir, hubungan ekonomi China-Korsel cukup menguntungkan terutama karena meningkatnya ekspor China ke AS, alhasil Korsel pun ikut merasakan buahnya, sebab ekspornya ke China juga naik. Tetapi, Prof Wongi Choe menjelaskan kini China sudah dianggap pesaing Korsel dalam sektor industri.

Selengkapnya Liputan6