JAKARTA (IndoTelko) - Jika ada satu konsekuensi positif yang ditimbulkan oleh situasi COVID-19 di Asia Tenggara, itu adalah bahwa kawasan tersebut memiliki kemampuan untuk merangkul digitalisasi. Faktanya, penelitian tahun 2020 yang dilakukan oleh Kaspersky di antara 760 responden dari wilayah tersebut mengungkapkan bahwa hampir 8 dari 10 saat ini menerapkan sistem bekerja dari rumah.
Dua hingga lima jam tambahan telah meningkatkan penjelajahan harian konsumen di Asia Tenggara yang rata-rata maksimal adalah 8-jam. Dalam hal finansial, 47% dari individu yang disurvei telah mengalihkan pembayaran dan transaksi bank mereka secara online karena pembatasan wilayah dan tindakan pencegahan keamanan di masing-masing negara.
Teknologi dan World Wide Web telah berkembang menjadi alat canggih yang semakin dimanfaatkan setiap orang untuk bertahan hidup dalam periode ini. Namun, ketergantungan yang meningkat pada internet juga membuka lebih banyak kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber. Seiring dampak digital dari pandemi dan situasi geopolitik yang terjadi di wilayah tersebut, Kaspersky mengungkapkan bagaimana kedua faktor ini mengubah lanskap ancaman yang ditargetkan di Asia Tenggara.
“Tahun 2020 tidak seperti tahun lainnya. Tahun ini bukan hanya waktu perubahan, tetapi juga mengubah waktu itu sendiri. Tahun ini telah mengubah cara kita bepergian, cara kita berbelanja, cara kita berinteraksi satu sama lain. Model ancaman komputer telah berkembang jauh sejak COVID-19 dimulai,” kata Director for Global Research and Analysis (GReAT) Team Asia Pacific di Kaspersky Vitaly Kamluk.
Selengkapnya IndoTelko