Ini sebuah gagasan untuk menghindari trade off antara ekonomi dan kesehatan masyarakat di tengah kepanikan penyebaran Coronavirus Disease 2019 (Covid-19). Wabah Covid-19 tersebut tidak hanya mengganggu sisi suplai tetapi juga sisi demand, sehingga menyebabkan total kesejahteraan populasi akan menurun.  

Dewan Per wakilan Rakyat (DPR) akan mulai bersidang dalam masa sidang ketigapada hari ini (Senin,30/3), dengan format tempat duduk baru, yaitu diberikan jarak dua kursi saat rapat paripurna. Hal tersebut dilakukan sebagai protokol khusus pencegahan Covid-19 yang diusulkan salah satu anggota Dewan. Sikap Dewan tersebut perlu diapresiasi, dari sebelumnya memicu polemik terkait karpet merah tes Covid-19 khusus anggota Dewan dan keluarganya.

Dewan sebenarnya punya kewenangan menunda satu pekan lagi untuk rapat paripurna. Namun situasi yang demikian intens imbas penyebaran Covid-19, Dewan dibutuhkan masyarakat untuk menyetujui beberapa rencana pemerintah dalam mengatasi virus corona baru ini.

Masyarakat mendukung ide bahwa tak ada dikotomi (no trade off) antara ekonomi dan keselamatan jiwa anak bangsa. Apa saja yang harus diperhatikan Dewan dan Pemerintah untuk menyerap aspirasi masyarakat tersebut? Situasi Terkini Covid-19 Perbedaan penanganan Covid-19 antara Korea Selatan dan Italia adalah Korea Selatan melakukan tes massal random, sedangkan Italia melakukan tes hanya kepada individu yang memiliki symptomatic cases. Hasilnya: di Korea Selatan 40,7% positif Covid-19 adalah mereka yang berusia 20-39 (milenial).

Bandingkan dengan di Italia, hanya 9,6% mereka pada usia sama. Sedangkan orang tua usia 60-80+ tahun terdapat kasus positif Covid-19 sebesar 59,65% (Italia) dan 21% (Korea Selatan). Perbedaan kasus positif Covid-19 di Korea Selatan dan Italia bisa ditilik berdasarkan usia korban. Mayoritas positif Covid-19 di Korsel adalah usia 20-39 tahun, sedangkan mayoritas di Italia adalah usia 60-80+.

Ini menunjukkan tidak ada pola yang seragam terhadap usia berapa yang paling memiliki exposure terhadap virus corona. Meskipun tidak ada pola usia terhadap exposure penyebaran Covid-19, terdapat pola fatalitas kematian pada usia tertentu, baik di Italia, Korea Selatan, maupun Tiongkok.

Individu berusia 60-80 ke atas adalah yang paling berisiko kematian bila mereka terpapar virus tersebut. Fatality rate di Italia usia 60-69 tahun sebesar 3,5%, usia 70-79 tahun sebesar 12,5%, dan usia di atas 80 tahun sebesar 20,2%.

Rerata fatality rate di Italia sebesar 6,8-7,2%, paling tinggi dibandingkan Tiongkok (2,3-4,0%) dan Korea Selatan (0,8-0,9%). Berdasarkan data, virus corona membunuh lebih banyak orang tua. Hal ini menunjukkan bahwa usia tua lebih berisiko meninggal bila positif Covid-19. Kematian orang tua di Italia merupakan yang terbanyak tersebut tidaklah mengejutkan karena Italia adalah negara populasi tua dibandingkan Korea Selatan dan Tiongkok.