Jakarta, CNN Indonesia -- Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pemasaran dan Kerjasama Pariwisata Kemenpar I Gde Pitana memaparkan potensi wisata Indonesia dalam Workshop Pengembangan Kapasitas Promosi dan Pemasaran Pariwisata bagi Diplomat RI di Lombok.

"Pariwisata adalah penyumbang PDB, Devisa dan Lapangan Kerja yang paling mudah, murah dan cepat. Dan buih keuntungannya bisa menetes sampai lapisan terbawah," tutur Pitana di depan 41 diplomat Indonesia dari seluruh dunia, seperti dikutip dari keterangan tertulis, Jumat (16/12).

Dia memaparkan dari data The World Travel & Tourism Council (WTTC), yang menyebut pertumbuhan pariwisata Indonesia masuk sembilan besar dunia dan tiga besar di Asia.

Dari periode Januari-Desember 2017 saja, angkanya sukses menembus 22 persen. Angka pertumbuhan ini di atas rata-rata pertumbuhan turisme dunia yang hanya menorehkan 6,4 persen. Presentasenya juga lebih tinggi dari pertumbuhan ASEAN sebesar 7 persen. 

"Kita hanya kalah dari Vietnam yang tumbuh lebih di angka 29 persen  karena melakukan banyak deregulasi. Malaysia hanya tumbuh 4 persen, begitu pula dengan Thailand," papar Pitana. Pertumbuhan ini langsung berimbas ke perolehan devisa. Kini, pariwisata sudah menjadi penyumbang devisa nasional nomor dua terbesar setelah industri kelapa sawit (CPO). 

Sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat sejak tahun 2015 dari US$12,2 miliar, pada 2016 menjadi US$13,6 miliar dan pada tahun 2017 naik lagi menjadi US$15 miliar. Diharapkan pada tahun ini sektor pariwisata meraup devisa hingga US$17 miliar. Sedangkan, proyeksi tahun 2019 sebesar US$20 miliar.