Jakarta - Emosi China kembali disulut ketika kapal selam bertenaga nuklir milik Prancis, SNA Emeraude, yang didampingi kapal BSAM Seine, berpatroli di sekitar Laut China Selatan (LCS) pada Selasa (9/2). Manuver ini adalah anomali, bukan saja karena kehadiran Prancis yang tidak biasa di kawasan, tetapi juga karena ASEAN sudah disepakati sebagai kawasan bebas senjata nuklir.
Prancis memiliki sejumlah pangkalan militer seberang laut di berbagai belahan dunia. Dari perspektif Prancis, Asia Tenggara diposisikan berada pada zona maritim Pasifik (Alpaci), tetapi tidak ada pangkalan militer Prancis di kawasan ini. Pangkalan militer Prancis yang paling dekat dengan negara-negara Asia Tenggara adalah di Caledonia Baru (FANC), yang menurut citra Google Earth berlokasi sekitar 3.500 kilometer tenggara Jayapura. Yang jadi menarik, SNA Emeraude tidak dikerahkan dari Pasifik, melainkan berlayar dari Prancis.
Tentunya Prancis memiliki maksud mengapa mereka harus jauh-jauh membawa kapal selam tersebut. Paling tidak, menurut Menteri Pertahanan Prancis Florence Parly, pengerahan kapal adalah untuk memperkaya pengetahuan dan menegaskan hukum internasional. Dalam kacamata politik, klaim China atas LCS dianggap tidak sesuai dengan hukum internasional yang berlaku. Secara implisit, pergerakan dapat diartikan sebagai gertakan untuk China. Prancis seolah mengatakan bahwa kapabilitas mereka untuk mengerahkan armada dari Eropa ke tempat manapun di dunia ini tidak diragukan.