REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menyebut minat perusahaan untuk melakukan aksi penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) di Indonesia masih sangat tinggi, di tengah kondisi makro yang dinamis akibat penyebaran Covid-19.
Menurut Direktur Penilai Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, jumlah perusahaan yang melakukan IPO di Indonesia bahkan yang tertinggi di ASEAN berdasarkan Ernst & Young Global Report. "Kita patut bersyukur bahwa minat IPO di Indonesia tinggi," kata Nyoman, Rabu (8/4).
Nyoman mengatakan perusahaan masih berminat melakukan IPO karena mempertimbangkan kebutuhan dana untuk mengembangkan usaha. Di sisi lain, otoritas pasar modal memberikan relaksasi jangka waktu umur Laporan Keuangan dan Laporan Penilai dalam rangka Penawaran Umum bagi perusahaan yang akan IPO.
Berdasarakan data BEI, terdapat 22 perusahaan yang bakal masuk ke pasar modal melalui mekanisme penawaran umum saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) per 6 April 2020.
Daftar calon emiten tersebut didominsi oleh sektor perdagangan yaitu sebanyak tujuh perusahaan lalu disusul sektor properti, real estate, dan konstruksi bangunan sebanyak lima perusahaan serta industri dasar dua perusahaan.
Sedangkan sektor finansial, agrikutultur dan kosumer masing-masing sebanyak dua perusahaan. Sisanya berasal dari sektor aneka industri serta sektor infrastruktur, utilitas dan transportasi masing-masing satu perusahaan.