Jakarta (ANTARA News) – Deputi Direktur Organisasi Buruh Internasional (ILO) untuk Regional Asia Pasifik Panudda Boonpala menyoroti pentingnya sistem perlindungan menyeluruh terhadap pekerja migran. Ia mengatakan, dalam acara peluncuran Kampanye Migrasi Aman di Sekretariat ASEAN di Jakarta, Rabu, saat ini masih sangat banyak orang yang bekerja dengan kondisi beresiko.

“Di ASEAN sendiri terdapat sekitar 300 juta pekerja, dan dari angka tersebut, sekitar 50 persen masih berada di lingkungan kerja yang rentan dan tidak memiliki akses perlindungan,” katanya. Pekerja migran merupakan salah satu sektor buruh yang seringkali dihadapkan dengan kurangnya perlindungan dan jaminan keselamatan. Salah satu contoh yang digarisbawahi Panudda adalah kurangnya ruang gerak bagi pekerja migran perempuan yang seringkali memaksa mereka untuk melakukan migrasi secara illegal.

“Pekerja perempuan seringkali dihadapi dengan tantangan dalam melakukan migrasi dengan aman dan legal. Hal ini dapat mendorong mereka untuk bermigrasi secara illegal yang tentu dapat membahayakan keselamatan mereka,” katanya. Permasalahan migrasi pekerja secara illegal masih menjadi salah satu tantangan bagi ASEAN, dan menurut Panudda, hal ini disebabkan oleh sistem migrasi yang masih belum terorganisir dengan baik.