REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA --  Para pemuda diharapkan lebih sering ngobrol dan bersikusi. Dengan berdiskusi diharapkan dapat saling memahami perspektif satu sama lain serta meningkatkan toleransi dan rasa saling menghargai.

Hal itu diungkapkan Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan RI (Kemenko PMK), Yohan dalam Seminar bertemakan Managing Religious and Cultural Diversity to Achieve Harmonious and Peaceful Society dalam rangkaian kegiatan ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2018, di Universitas Gadjah Mada  (UGM) Yogyakarta. Dia mendorong pembentukan forum diskusi di antara para pemuda dan pelajar.

“Keberagaman budaya, agama, pariwisata dan lain sebagainya dapat mempersatukan rasa keharmonisan, toleransi dan saling menghargai meskipun berbeda agama dan budaya,” ujar Yohan.

Tujuan diadakan program ini adalah untuk memberikan pemahaman kepada Negara-negara ASEAN bahwa Indonesia itu sebagai Negara yang penuh dengan keberagaman agama, budaya dan pariwisata, tetapi tetap bisa bersatu. Seminar Managing Religious and Cultural Diversity to Achieve Harmonious and Peaceful Society merupakan bagian dari rangkaian kegiatan AYIC 2018.