Ini bukan sebuah utopia jika PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk menargetkan menjadi the best mortgage di Asia Tenggara atau ASEAN pada 2025. Dengan jumlah penduduk 274 juta, kebutuhan rumah baru sekitar 1,5 juta per tahun, dan backlog di atas 7,6 juta, bisnis pembiayaan perumahan di Indonesia sangat prospektif.
Untuk masyarakat berpenghasilan menengah dan atas, pembelian rumah tinggal bukan masalah. Pembelian rumah bagi mereka hanya soal waktu dan lokasi yang cocok. Kelompok ini malah berkepentingan dengan pembelian rumah sebagai instrumen investasi. Jumlah mereka tidak banyak. Hanya sekitar 560.000 orang pada awal 2020.
Sementara pada waktu yang sama, terdapat 6,5 juta penduduk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) yang tidak memiliki pendapatan tetap dan belum memiliki rumah pertama. Kelompok MBR yang mempunyai pendapatan tetap hanya 1,7 juta. Dua kelompok MBR inilah yang menjadi perhatian pemerintah.
Secara sederhana, yang dimaksudkan dengan mortgage adalah kredit untuk perumahan, baik ke kredit pemilikan rumah (KPR) maupun non-KPR. BTN menyediakan dana bagi pengembang untuk membangun rumah tinggal, baik dengan fasilitas KPR non-KPR. Saat ini, 89% kredit BTN disalurkan untuk perumahan, terbesar adalah KPR dengan porsi sekitar 70% dari total dana masyarakat. BTN menyediakan KPR bagi 2.350 developer.
Ketika menetapkan targetkan menjadi the best mortgage, manajemen BTN tentu sudah mempertimbangkan berbagai faktor. Selain sisi permintaan, yakni kebutuhan yang besar akan perumahan, BTN juga memperhitungkan kemampuan untuk menyediakan pasokan. Kemampuan itu adalah penyediaan dana dengan bunga terjangkau oleh MBR.
Selengkapnya Berita Satu