JAKARTA, KOMPAS -- Perseteruan Amerika Serikat dan China membuat Asia Tenggara menjadi salah satu kawasan yang paling terdampak. Pembangunan Asia Tenggara bisa terganggu gara-gara perseteruan dua negara besar itu.
“Waktu Perang Dingin, lapangannya di Eropa. Sekarang, halaman belakang (perseteruan AS-China) di Asia Tenggara,” kata Shafiah Muhibat, Kepala Departemen Hubungan Internasional pada Centre for Strategic and International Studies (CSIS), Kamis (23/7/2020), di Jakarta.
Nur Rachmat Yuliantoro dari Universitas Gadjah Mada (UGM) berpendapat senada. “Dalam konteks regional, Asia Tenggara akan menyaksikan bagaimana ekonomi dan keamanan kawasan, maupun masing-masing negara di dalamnya, telah terdampak oleh perang dagang AS dan China,” kata Kepala Departemen Hubungan Internasional pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, Yogyakarta, itu.
Ketegangan AS-China terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Perkembangan terbarunya adalah Washington secara mendadak meminta Beijing menutup Konsulat Jenderal China di Houston, AS. Beijing diberi waktu tiga hari untuk menutup konsulat pertama China yang dibuka di AS selepas normalisasi hubungan AS-China itu.