BANGKOK - Berbagai kelompok lingkungan mendorong negara-negara Asia Tenggara melarang impor sampah dari negara-negara maju untuk membantu mengatasi krisis polusi. Seruan itu muncul saat para pemimpin Asosiasi Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN) bersiap bertemu pekan ini di Bangkok, Thailand.
Asia Tenggara mengalami peningkatan impor sampah plastik dan elektronik dari negara-negara maju setelah China sebagai pendaur ulang terbesar di dunia melarang impor sampah. Kebijakan China itu membuat jutaan ton sampah dialihkan ke negara-negara lain.
Thailand menjadi tuan rumah pertemuan empat hari para pemimpin ASEAN mulai Kamis (20/6) untuk membahas berbagai isu paling penting di kawasan. “Greenpeace Asia Tenggara mendorong para pemimpin ASEAN mengangkat isu ini dalam agenda selama konferensi tingkat tinggi (KTT) mereka tahun ini dan membuat deklarasi bersama untuk mengatasi krisis sampah plastik kawasan. Deklarasikan larangan segera untuk semua impor sampah plastik,” ungkap pernyataan Greenpeace, dilansir Reuters.
Menurut kelompok lingkungan Thailand, menjadi kepentingan ASEAN untuk melarang perdagangan sampah. “Menyambut sampah plastik dan elektronik dari luar negeri atas nama pembangunan harus segera dihentikan,” ungkap Penchom Saetang, direktur yayasan Ecological Alert and Recovery Thailand (EARTH).