Sektor ekonomi digital merupakan salah satu sektor signifikan di tengah era perkembangan teknologi yang sangat pesat. Ekonomi digital membuka peluang praktik ekonomi yang lebih praktis dengan jangkauan yang luas. Perkembangan teknologi yang semakin cepat mendorong masing-masing negara untuk mempersiapkan diri untuk menyambut masa depan. ASEAN juga tidak lepas dari perkembangan ini. Transformasi digital di ASEAN secara signifikan diakselerasi selama beberapa waktu belakangan dengan adanya peningkatan jumlah kaum muda dan perkembangan ekonomi secara keseluruhan di kawasan. Saat ini, kawasan Asia Tenggara telah menjadi rumah bagi setidaknya 12 perusahaan startup besar yaitu yaitu: Bigo, Bukalapak, Gojek, Grab, Lazada, Razer, Tokopedia, OVO, Sea Group, Traveloka, dan VNG. Kondisi ini tentu sangat mendukung kawasan Asia Tenggara untuk beralih kepada aktivitas digital, khususnya di masa pandemi.

Dari laporan E-conomy SEA yang dirilis oleh Google, Temasek, & Bain and Company, pada 2020 terdapat 40 juta pengguna baru yang menggunakan layanan daring. Sehubungan dengan keterbatasan akses selama pandemi, layanan yang sering digunakan oleh pengguna berupa finansial, jasa antar makanan, streaming hiburan, dan e-commerce. Penggunaan layanan daring tidak hanya berhenti setelah masa lockdown telah berakhir, melainkan 95% dari pengguna baru melanjutkan penggunaan layanan pada tahun 2021. Dari laporan ERIA for ASEAN and East Asia, signifikansi perkembangan ekonomi digital di kawasan juga diproyeksikan akan meningkat hingga $197 juta per 2025 dengan posisi ASEAN sebagai kekuatan ekonomi keempat dunia per 2030.

Selengkapnya Kumparan