Jakarta - Perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) yang melibatkan 16 negara yang terdiri dari 10 negara ASEAN, dan 6 negara dari Asia Pasifik diprediksi mendongkrak ekspor Indonesia sebesar 8-11% di 5 tahun pertama dan 18-22% di 5 tahun selanjutnya.

"Dari segi perdagangan 5 tahun pertama Indonesia entry to force, melaksanakan perjanjian ini, 5 tahun pertama ekspor kita bisa meningkat sekitar 8-11%. Setelah 5 tahun pertama tadi, kita bisa meningkat lebih tajam lagi 18-22% itu kalau didukung oleh investasi yang masuk," tutur Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Iman Pambagyo di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (22/10/2019).

Dalam RCEP ini memang ada tiga sektor yang termasuk dalam perjanjian dagang yakni sektor perdagangan barang, jasa, dan investasi. Untuk investasi sendiri, kata Iman, Indonesia masih perlu memberikan kepastian hukum terhadap para investor.

"Kalau investasi itu banyak faktor bisa masuk di Indonesia. Jadi investasi asing itu bisa masuk di Indonesia tidak hanya melihat pasar di Indonesia besar. Tapi juga faktor lainnya yang berkaitan dengan pasar itu sendiri. Kepastian peraturan perundang-undangan itu yang menjadi banyak pertanyaan investor asing," terang Iman.
 

Meski begitu, ia mengungkapkan, kalkulasi di atas merupakan prediksi pada 2013-2016. Angka tersebut keluar pada saat perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China belum terjadi.

"Itu hitungan 2013-2016. Ini kan sekarang ada trade war. Trade war pada tahap pertama itu nggak mengganggu Indonesia, karena forwarding cage kita dengan AS dan China itu kecil indeksnya. Artinya produk yang digunakan tarif tinggi oleh AS dan China itu input darI Indonesia kecil, begitu pun sebaliknya," papar dia.

Sehingga, di tahap atau gelombang kedua trade war yang berdampak pada banyak negara, kemungkinan bisa merubah prediksi tersebut.
 

Selengkapnya Detik.com