JAKARTA - Organisasi antar parlemen di negara-negara Asia Tenggara atau juga disebut ASEAN Inter-Parliamentary Assembly (AIPA) terus berusaha memperkuat perannya di negara-negara ASEAN. Sekretaris Jenderal AIPA, Isra Sunthornvut menyatakan, meski komunitas negara ASEAN telah jauh lebih terintegrasi, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi guna terwujudnya komunitas ASEAN yang sesungguhnya.
Tingkat antusiasme masyarakat ASEAN terhadap komunitas ini terbilang cukup rendah, ditambah masih ada jarak yang lebar antara ASEAN sebagai sebuah organisasi dengan masyarakatnya. "AIPA hadir guna menghubungkan keduanya, atau setidaknya untuk meminimalisir jarak yang ada sehingga kita bisa menjadi satu komunitas ASEAN yang seutuhnya," ucapnya di Sekretariat AIPA Jakarta, kemarin.
Menurutnya, selama ini organisasi parlemen ASEAN belum pernah secara konkret membahas berbagai isu yang ada di ASEAN. Pendalaman terhadap isu isu terkini mulai dilakukan. "Tidak mudah memilih isu yang akan diangkat untuk didiskusikan di AIPA karena setiap negara memiliki sikap dan aturan hukumnya sendiri. Kami memilih yang sekiranya memang tidak bisa dipungkiri jadi perhatian semua pihak," ungkapnya.
Salah satu isu yang menjadi concern AIPA saat ini terkait eksploitasi seksual anak dalam perjalanan dan pariwisata. AIPA telah melakukan kajian bersama untuk menilai imbas dari pertumbuhan pariwisata Asia Tenggara yang sangat pesat.