London (ANTARA News) - Pemerintah beserta Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Guinea telah mencanangkan program ekonomi baru tahun 2018 yaitu beralih ke ASEAN dalam kerja sama perdagangan dan telah membuat pemetaan mengenai sektor potensial untuk dikerjasamakan dengan negara-negara ASEAN termasuk Indonesia.

"Wakil Ketua Kadin Guinea Elhadj Baubacar Fofana saat bertemu Dubes RI Dakar (yang juga merangkap Guinea), Mansyur Pangeran, akhir pekan lalu di Conakry," kata Pensosbud KBRI Dakar Dimas Prihadi kepada Antara London, Selasa.

Menurut Fofana, selama ini para pengusaha Guinea hanya fokus ke Tiongkok saja dan melupakan bahwa masih banyak potensi perdagangan yang belum tergali utamanya di ASEAN. "Ada 20.000 pengusaha Guinea yang telah menjalin kerja sama dengan pengusaha Tiongkok," ujar Fofana.

Kadin Guinea telah melakukan survei pasar dan diperoleh data bahwa harga barang-barang dari Tiongkok sudah tidak kompetitif lagi dan kualitasnya juga dinilai kurang baik. Hasil penelitian juga menunjukkan barang-barang sejenis di ASEAN kualitasnya justru jauh lebih baik dan harganya kompetitif.

Kadin Guinea telah berkomitmen untuk menjalin kerja sama dengan ASEAN termasuk Indonesia, dan KBRI Dakar diharapkan menjadi pintu masuk kerja sama tersebut. Sebaliknya, Kadin Guinea siap menjadi poros penghubung antara Indonesia dengan pihak terkait di Guinea.

Kadin Guinea berharap dapat segera ditandatangani sebuah MoU kerja sama dengan KADIN Indonesia dan akan segera menyusun draft nota kesepahaman (MoU) tersebut.

Dubes Mansyur Pangeran mengharapkan MoU kadin kedua negara dapat segera direalisasikan awal tahun 2018. 

 
"Momentum yang paling tepat adalah pada saat dilangsungkannya Indonesia-Afrika Forum 2018 di Bali, 10-11 April 2018," ujar Dubes.