TEMPO.COJakarta - Bantimurung Bulusaraung tak sekadar memiliki panorama indah. Air terjun, tebing-tebing karst, goa dan hutan hujan tropis menciptakan lanskap alam yang indah. Bantimurung Buluaraung memikat hati antropolog sekaligus naturalis Alfred Russel Wallace menghabiskan sebagian hidupnya di kawasan tersebut untuk meneliti berbagai jenis kupu-kupu. 

Antara tahun 1856-1857, Wallace berdiam di Maros. Dalam penelitiannya Wallace menyebut Bantimurung merupakan The Kingdom of Butterfly (kerajaan kupu-kupu). Menurutnya di lokasi tersebut terdapat sedikitnya 250 spesies kupu-kupu. Tahun berganti tahun, temuan Wallace diakui dunia.

Taman nasional itu diganjar ASEAN Heritage Park pada acara Sixth ASEAN Heritage Park Conference yang diselenggarakan di Laos, 21-25 Oktober 2019. Kepala Balai Taman Nasional (TN) Bantimurung Bulusaraung, Yusak Mangetan menerima piagam deklarasi tersebut. 

Sebelumnya, empat taman nasional di Indonesia telah masuk daftar ASEAN Heritage Park; TN Gunung Leuser, TN Kerinci, TN Lorentz, dan TN Way Kambas. Bahkan TN Lorentz telah menyandang predikat Situs Warisan Dunia UNESCO.

Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki luas lebih kurang 43.750 hektare. Secara administrasi pemerintahan, kawasan taman nasional ini terletak di wilayah Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Bantimurung berada di kawasan Kabupaten Maros, sementara Bulusaraung berada di wilayah Pangkep.

Selengkapnya TEMPO